Zeventina's Journey ~ Catatan Kebahagiaanku

Zeventina's Design JUST FOR U
"Blogspot, Wordpress, Yahoo 360's Themes"



Tuesday, December 13, 2005 | 1:10 AM

Kado Natal Dari Seorang Sahabat


Tanpa disangka, terima kado Natal yang indah dari pendeta mabuk di Belanda sana, mang Ucup, yang tulisan2nya lucu, sekenanya, namun berbobot. Beliau adalah pendiri situs doa satu menit, yang anggotanya ada sekitar 1400 orang. Nama aslinya pak Robert, tapi kenapa ya jadi populer dengan nama mang Ucup? Beliau sudah sering menulis, sayang bukunya yang sudah terbit belum sempat ku baca..

Ini kado dari beliau...

Shyallom sis Tina yg baik. Pertama dgn ini mang Ucup hendak mengucapkan banyak terima kasih atas komentarnya di milis maupun untuk bimbingannya belajar membuat blog, walaupun nyatanya s/d saat ini saya masih belum berhasil membuat shouternya, mungkin karena terlalu O´on kali he-he-he

Oleh sebab itu untuk semua budi kebaikan dan waktu yg telah diluangkan oleh sis Tina, mang Ucup ingin memberikan kado Natal untuk sis Tina, walaupun Natal nya masih jauh tetapi saya ingin memberikannya sekarang ialah berupa tulisan yg tercantum dibawah ini, tulisan ini Belum pernah ditayangkan bahkan dibaca pun belum jadi sis Tina adalah manusia dan pembaca pertama dari artikel ini. Salam dgn penuh kasih dan doa, Mang Ucup


Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada th 1914 tepatnya di front perang bagian barat di Eropa. Pada saat tsb tentara Perancis, Inggris dan Jerman sedang saling baku tembak satu dgn yg lain.

Di malam Natal yang dingin dan gelap begini, hampir setiap perajurit, merasa sudah bosan dan muak untuk berperang, apalagi telah berbulan – bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak maupun orang tuanya.

Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bareng beserta dgn seluruh anggota keluarganya masing2, makan bersama, bahkan menyanyi bersama dibawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.

Beda dgn malam Natal yg sekarang ini, dimana cuaca diluaran sangat dingin sekali dan saljupun turun dgn lebatnya, mereka bukannya berada diantara anggota keluarga yg mereka kasihi, melainkan berada dihadapan musuh perang mereka yg setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yg bergerak.

Tiada hadiah yg menunggu selainnya peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang jauh sehingga hari ini hampir seharian penuh mreka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju. Biasanya mereka berada dilingkungan yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dlm lubang parit, seperti layaknya seekor tikus, boro-boro bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat dimana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dgn lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yg lebih besar pada saat ini selainnya rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dgn orang2 yg mereka kasihi.

Seorang tentara sedang merintih kesakitan, karena barusan saja kena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pimpinan mereka yg biasanya keras dan tegas entah kenapa malam ini kelihatan sangat sedih sekali terlihat oleh saya air matanya turun berlinang keluar rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yg baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir ? Kapakankah mereka akan bisa pulang kembali kerumahnya masing-masing? Dan masih merupakan satu pertanyaan besar apakah mereka bisa pulang dgn selamat dan berkumpul kembali dgn isrti dan anak2nya? Entahlah.

Tidak sepatah katapun terdengar, suasana malam yg gelap, dingin terasa hening dan sepi sekali, karena masing2 teringat dan memikirkan keluarganya masing2. Telah berjam-jam mereka duduk membisu seperti demikian.

Tiba-tiba di depan di front Jerman ada cahaya kecil yg timbul kelihatan bergoyang, cahaya tsb kelihatan semakin nyata ternyata ada seorang perajurit Jerman yg telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat keatas dari parit tempat persembunyian mereka sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tsb.

Pada saat yg bersamaan terdengar alunan suara lagu “"Stille Nacht, heilige Nacht" (Malam Kudus) yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yg dinyaynyikan tsb; semakin jelas dan semakin keras kedengaran, sehingga membuat para pendengarnya jadi merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yg berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yg bernama Sprink yg menyanyikan lagu tsb dgn suara yg sangat indah, bersih dan merdu, karena prajurit Sprink tsb sebelum ia dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yg terkenal. Rupanya dlm suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tsb yg mendorong dia untuk melepaskan emosinya dgn menyanyikan lagu tsb, walaupun
ia mengetahui dgn menyanyi tsb prajurit musuh bisa mengetahui tempat dimana ia berada.

Ia bukan hanya sekedar menyanyi dlm tempat persembunyiannya saja, ia berdiri tegak tidak membungkuk lagi bahkan ia naik keatas sehingga bisa dilihat dgn nyata oleh semua musuh2nya. Melalui nyanyian tsb ia ingin membawa kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari Natal ini ialah damai & kasih untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya; untuk ini ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya, tetapi apa yg terjadi, apakah ia ditembak mati ?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukijzat yg terjadi sebab pada saat yg bersamaan semua prajurit yg ada disitu turut keluar dari tempat persembunyiannya masing2, dan mereka mulai menyanyikannya bersama, bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat musik Skotlandia) yg dibawahnya khusus ke medan perang.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dlm bhs nya masing2, disinilah rasa damai dan sukacita benar2 terjadi. Setelah itu mereka meneruskan menyanyi bersama dgn lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa.
Mereka berhimpun bersama dgn musuh mereka yg seyogiyanya harus saling membunuh satu dgn yg lain, tetapi entah kenapa dlm suasana Natal tsb mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran-Nya Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yg benar2 bisa membawa damai.


(Duh, mang Ucup, terimakasih ya atas kado Natalnya yang demikian indah)....


27 comments